
Pendakian Gunung Loros
Setiap ada agenda pendakian yang digagas oleh komunitas POC (POMI Outdoor Club), suami saya selalu memberi tahu saya dan mengajak turut serta dalam kegiatan tersebut. Tercatat sudah beberapa kali saya mengikuti kegiatan POC, mulai dari pendakian ke Taman Hidup (Danau Rengganis) di Gunung Argopuro, pendakian singkat menuju Air Terjun Kalipedati, Air Terjun Hyang Darungan, dan terkahir kemarin adalah pendakian ke Puncak Gunung Loros.
Gunung Loros mempunyai ketinggian 534 mdpl, terletak di Desa Selobanteng, Kecamatan Banyuglugur, Kabupaten Situbondo. Puncak Gunung Loros terlihat megah tepat di depan PLTU Paiton, tempat suami bekerja. Apakah karena lurus dengan PLTU, sehingga disebut Gunung Loros? Ataukah ada cerita lain dibalik itu?

Para anggota POC mendaki bersama komunitas pecinta alam dari Kabupaten Situbondo lainnya dalam acara peringatan hari Bumi pada tanggal 25 Juni 2026 lalu. Acara ini terdiri dari kegiatan planting, hiking, trekking dan terkhir adalah makan bersama setelah summit.
Peserta dalam pendakian ini dibagi menjadi 4 kelompok besar, satu kelompok terdiri dari kurang lebih 10 – 15 peserta. Saya dan suami saya mendapat kelompok 2, bersama Om Hafidun dan istri (Te Hilda) dengan sweeper Mas Sindu. Dalam rombongan kami ada Dik Sabila (mahasiswa Univeristas Ciputra Surabaya, Fakultas Manajemen Bisnis), Mbak Enggar dan lainnya. Akhirnya saat di pertengahan perjalanan, kelompok dua terpecah, yang mendaki cepat menyampai lebih cepat, dan selebihnya pelan tapi pasti termasuk saya dan suami.
Ada 2 pos pendakian dan 1 pos summit. Para peserta menempuh perjalanan rerata 2 jam untuk menaik dan kemudia menurun. Tek tol, istilah keren saat ini apabila menaik gunung dan langsung menurun di hari yang sama. Pastikan sahabat semua apabila akan menaik gunung, ketinggian berapapun, silahkan menyiapkan fisik dan mental dengan berlatih rutin sebelum mendaki, agar tidak kepontal-pontal seperti saya. Hihihi…
Oh iya, selama perjalanan ada tim penanam pohon dan yang ditanam adalah pohon buah seperti durian, kelengkeng, rambutan, alpukat dan lain-lain. Kalau saya dan suami termasuk tim hore ya… hihihi

Ternyata di ketinggian 534 mdpl dan sangat dekat dengan laut membuat suasana di gunung terasa panas. Tercatat suhu 29ºC pada aplikasi dengan catatan kecil feels like 34ºC. Belum lagi sejak kita mulai mendaki sampai diatas puncak, tidak ada satupun mata air yang terlihat, tidak ada gemericik air yang terdengar. Untungnya panitia telah menyiapkan dua water station untuk kita di pos 1 dan pos 2 pendakian. Lengkap dengan camilannya, pisang raja dan jeruk. Meskipun kata Om Hafidun, camilannya kurang tepat saat pendakian.
Semua itu terbayar dengan pemandangan yang sangat istimewa. Dari atas puncak gunung terlihat pegunungan disekitarnya membentang dengan amat gagah, terlihat pemandangan alam yang megah. Bentangan laut terlihat indah dibawahnya saat kita melihat dari ketinggian. Cerobong asap PLTU dan kapal tongkang batu bara di laut terlihat mewah. Andai saat itu kita mempunyai drone, pastilah foto kita semakin ciamik dan menawan.
Jadi sahabat, apabila akan melakukan pendakian di Gunung Loros ini, harap mempersiapkan air yang cukup untuk minum dan kebutuhan lainnya ya… Sampai jumpa pada kegiatan mendaki berikutnya!
🦋Izzuki Muhashonah, Pembelajar asal Kab. Lamongan
Ketua Yayasan Al Amin Tunggul Paciran Lamongan
Dokter Spesialis Patologi Klinik RSUD Waluyo Jati dan Rumah Sakit Rizani Probolinggo
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Surabaya https://s1kedokteran.fk.unesa.ac.id