
Healthy Habits: Antibiotics Do’s and Don’ts
Antibiotika adalah obat untuk membunuh bakteri dan dapat menyelamatkan nyawa seseorang, namun antibiotika bukan merupakan satu-satunya jawaban. Para tenaga kesehatan khususnya dokter harus betul-betul mempertimbangkan penggunaan antibiotika untuk kesembuhan pasien dan keberlangsungan kehidupan. Gunakan antibiotika HANYA saat Anda membutuhkannya!
Beberapa langkah yang harus diketahui saat memutuskan menggunakan antibiotika adalah sebagai berikut: Antibiotika hanya menyembuhkan penyakit akibat infeksi bakteri. Antibiotika tidak bekerja untuk infeksi akibat virus. Virus bukan bakteri, dan tidak dapat hilang dengan pemberian antibiotika. Kondisi infeksi virus terkadang mirip dengan infeksi akibat bakteri, ada nyeri tenggorokan, coomon cold, sampai ada gejala bronkitis yang disebabkan oleh adanya virus. Jadi, seorang dokter wajib mengidentifikasi melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik untuk menentukan apakah seorang manusia yang diperiksa terinfeksi bakteri atau lainnya?
Saat kita terinfeksi virus dan tidak membutuhkan antibiotik, maka apabila ada konsumsi antibiotik, tidak akan memperbaiki kondisi tubuh. Antibiotik tidak berfungsi baik pada kondisi ini, dan justru akan menimbulkan efek samping yang lainnya, termasuk terjadinya resistensi antibiotik. Sebagai seorang pasien, jangan sampai memaksa dokter untuk meresepkan antibiotik karena kebiasaan masa lampau yang dipunyai.
Saat manusia terinfeksi bakteri, di sinilah antibiotik mendapat tempat dan antibiotik akan bekerja sesuai dengan farmakokinetik dan farmakodinamiknya. Saat kita mendapat terapi antibiotik, yang harus diingat adalah jangan men-share antibiotik untuk manusia lain, habiskan semua resep antibiotik, jangan disimpan untuk digunakan kemudian saat sakit seperti ini lagi, dan juga jangan memberikan resep antibiotik kepada lainnya, karena resep ini hanya aman dan bermanfaat untuk kamu, bukan untuk temanmu.
Antibiotik mempunyai efek samping yang kadang sulit dihindari, terutama bagi manusia yang mempunyai riwayat alergi. Setiap mengonsumsi antibiotik, diwajibkan untuk melihat dan mengamati adanya kemerahan, rasa mual, rasa pusing, diare bahkan akan muncul jamur apabila konsumsi dalam jangka waktu lama. Efek samping pada anak mempunyai efek lebih berat dan sering kali menjadi alasan anak-anak datang ke IGD.
Antibiotik penting dikelola untuk manajemen infeksi lebih baik. Selain itu yang perlu diperhatikan adalah saat kita handle antibiotik, wajib melakukan hand hygiene baik dengan alcohol base-hand rub, atau menggunakan air dan sabun. Saat batuk, tutup mulut dan hidung menggunakan tissue atau masker, kemudian buanglah di tempat sampah infeksius, atau gunakan lengan bagian dalam apabila kita jauh dari tissue atau masker dan juga fasilitas hand hygiene. Apabila sakit, silahkan istirahat di rumah, tidak sering keluar rumah. Dan hindari menyentuk muka, mata, hidung, dan mulut apabila tangan tidak dalam kondisi bersih setelah hand hygiene.
🦋Izzuki Muhashonah, Pembelajar asal Kab. Lamongan
Ketua Yayasan Al Amin Tunggul Paciran Lamongan
Dokter Spesialis Patologi Klinik RSUD Waluyo Jati dan Rumah Sakit Rizani Probolinggo
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Surabaya https://s1kedokteran.fk.unesa.ac.id
Tulisan ini disadur dari Artikel WHO, 2025