
Bagongbus: Pilot Darat, Pejuang Rupiah
Pagi ini berbeda dengan biasanya, saya pergi ke Surabaya bersama Mbok AAS menaik bus ekonomi. Sejak saya menikah dan mempunyai anak, terbiasa diantar atau menaik kereta. Pagi ini, mendadak menaik bus ekonomi. Kembali.kaget, dengan slogan yang diteriakkan kondektur: “langsung berangkat, tol panjang, ayooo!” Akhirnya saya dan Mbok AAS tergiur menaik bus ekonomi itu. Apalagi setelah menunggu bus patas tidak kunjung tiba. Alhamdulillah bus melaju kencang meskipun pada awalnya sering berhenti mencari penumpang.
Teknologi semakin berkembang, Bagongbus pun tidak ketinggalan mengupgrade diri. Bus ini mempunyai.jadwal yang pasti. Bus jurusan Ambulu – Surabaya ini mempunyai jadwal yang tertib. Berangkat dari Ambulu pukul 04.05 WIB dan akan berangkat kembali dari Surabaya pada pukul 12.04 WIB. Dan saat membayar, ternyata Bagongbus ini menerima pembayaran non tunai dengan QRIS. Wah, ini sangat keren, sampai saat ini, bus antar kota yang menerima pembayaran QRIS barulah ada Bus Bagong ini.
Nah, bagaimana kalau transportasi umum kita semua mantap? Jalan-jalan mulus dan tidak berlubang. Masyarakat kita saat ini lebih memilih mengendarai kendaraan pribadi baik itu mobilnataupun sepeda motor. Selain transportasi umum yang kurang ramah, ditambah ditempat tempat tertentu sangat jauh dari kata layak dan manusiawi, kita tidak dapat memaksa masyarakat memilih transportasi umum ini. Bagaimana peran pemerintah kita?

Nah, berbeda lagi kita amati para kru Bus Bagong ini. Pak Sopir yang terlihat paling senior tidak banyak berbicara. Apakah ini karena ada pepatah: “Dilarang berbicara dengan sopir!” Ataukah memang beliau pendiam. Pak Sopir mengendalikan bus dengan aman dan tenang, karena beliaulah sebagai leader bus ini, kru yang lain sangat menghormati beliau. Yah, beliau adalah pengendali bus, boleh dikata beliau adalah Pilot Darat.
Siapa yang tidak mengenal pilot darat? Salah satu pekerjaan yang halal dilakukan oleh sahabat kita, para sopir dengan segala macam bentuk kendaraan yang dikemudikan. Beliau bukan pengendali pesawat, melainkan pengendali arah hidup di jalanan: sopir bus, sopir angkutan, pengemudi truk, ojek, hingga kurir yang menembus panas dan hujan.
Para pilot darat ini menjaga roda ekonomi tetap berputar.Setiap hari, mereka menukar tenaga dengan rupiah. Dari subuh hingga larut malam, tangan menggenggam setir, mata menatap jalan, hati berdoa agar selamat sampai tujuan.
Mereka tahu, setiap kilometer adalah tantangan. Jalanan macet, cuaca tak menentu, bahkan risiko keselamatan selalu mengintai. Namun semangat tetap menyala, karena ada keluarga yang menunggu, ada cita-cita yang harus dibiayai, ada kehidupan yang harus diperjuangkan.
Mereka mengajarkan arti kerja keras, keteguhan, dan keberanian. Tanpa mereka, distribusi barang terhenti, mobilitas manusia terhambat, dan denyut ekonomi melambat. Mereka adalah pahlawan yang sering terlupakan, namun sesungguhnya menjadi tulang punggung negeri.
Rupiah yang mereka kumpulkan bukan sekadar angka, melainkan hasil perjuangan, keringat, dan kesabaran. Nah, Bagaimana dengan kenaikan kurs rupiah terhadap dolar? Kurs dolar menaik dan terus disertai dengan meluncurnya kenaikan bahan pokok.
Mungkin disebagian masyarakat Indonesia tidak merasakan bagaimana efek kenaikan kurs rupiah terhadap dolar ini? Namun pada sebagian yang lain, sampun sami sambat, saudara…. Masyarakat kalangan menengah kebawah, yang tidak menggunakan dolar dalam transaksinya, merasakan kenaikan harga yang ugal ugalan. Harga tomat dari Rp 8.000,- menjadi harga Rp 15.000,- perkilogramnya.
Bagaimana dengan pilot darat kita dan para krunya? Sudahkah pemerintah kita memikirkan nasib para pilot darat dan krunya?
🦋Izzuki Muhashonah, Pembelajar asal Kab. Lamongan
Ketua Yayasan Al Amin Tunggul Paciran Lamongan, SMA https://www.smasalaminpaciran.sch.id/; SMP https://smpalaminpaciran.sch.id/index.php
Dokter Spesialis Patologi Klinik RSUD Waluyo Jati dan Rumah Sakit Rizani Probolinggo
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Surabaya https://s1kedokteran.fk.unesa.ac.id
TERBAIK
Terima kasih